Soedirman, Akitifis Islam yang Menjadi Jendral

image

Sejarah yang tertulis dalam buku mata pelajaran sekolah, terkadang ditulis secara tidak adil. Nilai-nilai perjuangan umat Islam yang begitu besar ditulis dengan porsi kecil. Tujuannya jangka panjang, yaitu melemahkan militansi dan loyalitas kaum muslimin terhadap Islam dalam mengatur negara. Wajar kalau Kapitalisme dan Sekulerisme begitu berjaya saat ini di Indonesia, sebagai buah ditulisnya sejarah secara sekuler.

Soedirman yang dilahirkan di Bantarbarang, Rembang, Kabupaten Purbalingga, 24 Januari 1916. Dalam buku sejarah dibangku sekolah, hanya diperkenalkan sebagai Jendral didikan PETA (organisasi militer bentukan Jepang).

Jauh sebelum tergabung pada barisan PETA. Soedirman muda sudah tergabung pada barisan Hizbul Wathan sebuah organisasi kepanduan yang nantinya dileburkan menjadi Pramuka oleh pemerintahan pada dekade enam puluhan.

Perlu diketahui Hizbul (HW) Wathan adalah organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan sebagai gerakan semi militer sayap dari Muhammadiyah. Setelah Reformasi HW dihidupkan kembali di sekolah-sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia sebagai pengganti pramuka.

Pendidikan Soedirman, dimulai di sekolah HIS di Cilacap tahun 1923-1930, dilanjutkan ke sekolah MULO Taman Dewasa (hanya satu tahun), dan pindah ke perguruan Wiworo Tomo selesai tahun 1935. Di Wiworo Tomo nilai kebangsaan dan religiusitas mulai terlihat, dengan menojolnya Soedirman pada pelajaran Bahasa Indonesia, sejarah, tatanegara, ilmu bumi, bahasa Belanda, dan pastinya keagamaan.

Setelah tamat dari sekolah menengah waktu itu, Wiworo Tomo. Soedirman masuk sekolah guru HIK Muhammadiyah di Solo. Sayangnya, alasan kurangnya Biaya yang disebabkan wafatnya ayah dan ibu membuat pendidikan dibangku kuliah harus terhenti. Sehingga pada tahun 1936 Soedirman memutuskan kembali ke Cilacap.

Di Cilacap beliau melangsungkan pernikahan dengan Alfiah binti Sastroatmodjo teman sekolah di Wiwiro Tomo. Di Cilacap Pula, keaktifan di pergerakan Islam semakin menanjak, beliau mengajar di HIS Met de Qur’an Muhammadiyah dan membangun pasukan kepanduan HW serta menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah (WMPM) wilayah Jawa Tengah.

Pada tahun-tahun berikutnya Soedirman di angkat menjadi kepala sekolah di HIS Muhammadiyah Cilacap dan menjadi Dai di Masjid Muhammadiyah, jalan Rambutan. Cakupan dakwah beliau cukup luas, meliputi Cilacap, Banyumas, sampai perbatasan Brebes dan dari hasil dakwah beliau menjadi relasi pasukan Islam dikemudian hari.

Heroisme yang diiringi oleh semangat dakwah tentunya bisa kita ambil contoh dari fakta sejarah yang tidak terungkap Jendral Soedirman. Sehingga dakwah dan heroisme bangsa sangat berkaitan dan kesadaran membaca sejarah aktifitas para tokoh kita secara lengkap lebih digiatkan lagi. Agar kebanggaan dan loyalitas terhadap perjuangan Islam bisa terjaga dengan latar belakang apapun.

Sumber:
100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s