Fanatisme Madzhab Biang Kerok Perpecahan

Oleh :Ustadz Wahyudi Abdurrahim,Lc
PCIM Mesir

Dalam Islam terdapat berbagai aliran mazhab. Setiap mazhab memiliki metodologi ijtihad dan hasil ijtihad masing-masing. Pengikut alam mazhab tersebut ada yang toleran terhadap mazhab lain, ada juga yang sangat fanatik. Untuk yang kedua ini biasanya menjadikan mazhabnya sebagai satu-satunya rujukan dalam berbagai hal. Ia tidak mau menoleh terhadap mazhab lainnya.

Menurut Muhammad al-Ghazali, fanatisme mazhab banyak mengandung nilai negatif. Pengikut mazhab yang hanya berkutat pada mazhabnya sendiri bisa jadidalam suatu permasalahan tertentu akan merasa berat, membingungkan, dan bahkan dapat menimbulkan mudarat. Jika umat ini selalu tidak bersatu , maka “oranglain” akan memandang bahwa umat Islamadalah umat yang selalu terpecah belah. Dengan demikian, banyak orang di luar Islam menjadi tertarik dengan Islam.

Suatu kali, Muhammad al-Ghazali mendengar salah seorang santri bertanya kepada Kiai penganut fanatik mazhab Syafi’i tentang makanan yang terkena tetesan anggur. Kiai itu menjawab bahwa makanan tersebut harus dibuang karena sudah tercampur dengan barang haram. Muhammad al-Ghazali juga pernah mendengar salah seorang santri bertanya kepada Kiai penganut fanatik mazhab Hambali tentang boleh tidaknya perkawinan yang berbeda mazhab. Kiai tersebut menjawab bahwa hukum perkawinan tersebut tidak boleh karena antara keduanya terdapat perbedaan caraibadah dan cara berpikir. Perkawinan beda mazhab menurutnya hanya akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.[1]

Mendengar berbagai pandangan di atas, Muhammad al-Ghazali merasa terkejut dan heran. Jika demikian, betapa sulit dan kakunya agama Islam ini. Padahal Rasul sendiri tidak mempersulit umatnya dalam melakukan ibadah. Kasus di atas hanya sekadar contoh sederhana yang terjadi dalam masyarakat Islam. Muhammad al-Ghazali masih sering melihat persoalan lain yang menjadi penyakit umat karena fanatisme mazhab yang berlebihan.

Menurutnya, ada dua hal penting yang menyebabkan timbulnya fanatisme mazhab. Pertama, lemahnya ilmu dan kurangnya wawasan keislaman. Kedua, akibat kebodohan tersebut, timbul sifat lain yaitu buruk sangka dan penyakit hati lainnya. Muhammad al-Ghazali pernah melihat kasus lain. Di salah satu masjid di Kairo, ada seorang laki-laki yang terlambatshalat jamaah. Laki-laki tersebut tidak memakai peci. Salah seorang dari jamaah shalat memukul kepala laki-laki tadi sambil mengatakan bahwa kepala adalah aurat dalam shalat. Sikap seperti ini muncul karena kedangkalan ilmu seorang.Ia melihat orang lain sesuai dengan keyakinannya. Maka ia akan selalu memandang salah terhadap perilaku orang lain yang berbeda dengannya. Dalam hatinya sudah tertanam penyakit hati yang jika dibiarkan dapat merusak tatanan sosial dan menimbulkan keretakan dalam masyarakat Islam.[2]

[1] Muhammad al-Ghazali, Dustûru’l Wihdah al-Tsaqâfiyyah bayna’l Muslimîn, Dâr al-Qalam, Damaskus, 1998, hal. 96[2] Ibid., hal. 98. Lihat juga, Muhammad al-Ghazali, Laisa min’l Islâm,Dâr al-Kutub al-Hadîts, Kairo, 1963, hal. 134

Sumber:
Sang Pencerah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s