Koreksi Bagi Para Pakar Hisap (perokok)

Ketika muncul suatu pernyataan bahwa godaan seorang pria di bumi adalah tahta, wanita dan harta. Untuk zaman sekarang, pernyataan tersebut saya kira kurang lengkap. Sebab godaan pria zaman sekarang adalah tahta, wanita, harta, dan tembakau (rokok).

Ketika para pakar kesehatan menyatakan rokok memberikan dampak negatif pada tubuh. Para pecinta rokok tetap berlomba mengepulkan asap, dimanapun mereka berada. Adapun di dunia per-hisapan indonesia adalah surga bagi para perokok, yaitu tempat yang mencetak pakar hisap tiap tahunnya dan memberikan pekerjaan sebagai ahli kubur bagi yg berprestasi.

Para pakar hisap ketika berbicara hukum rokok hanya mengenal teori makruh. Berbagai macam argumentasi/logika untuk memperkuat teori tersebut. Adapun argumentasi/logika para pakar hisap untuk memperkuat teori rokok itu makruh, sebagai berikut:

1. Rokok itu makruh karena sebatas menimbulkan bau yg tidak sedap dan tidak menimbulkan bahaya besar. Logika ini diambil berdasarkan proses qiyas pada hadis yg berbicara bau bawang.

Dalil:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang telah menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 29).

من أكل البصل والثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

“Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih (mentah) dan karats, maka janganlah dia menghampiri masjidkami, karena para malaikat terganggu dengan hal yang mengganggu manusia (yaitu: bau tidak sedap).” (HR. Muslim).

Koreksi:

Ayat di atas memang jelas mendorong kita bebas mengkonsumsi apapun, termasuk rokok. Kebebasan tersebut tidak berarti memberikan hak bebas seenaknya. Ada nash lain yg memberikan penjelasan tambahan, yaitu larangan membunuh diri sendiri. Merokok itu adalah upaya membunuh diri sendiri secara perlahan, yaitu dengan memasukan racun pada tubuh di dalam tiap hisapnya.

Argumen bahwa merokok hanya menimbulkan bau dan qiyas terhadap hadis memakan bawang sangatlah lemah. Proses qiyas yg dilakukan kurang menyeluruh, hanya melihat dampak negatif dari luarnya saja. Padahal bau asap rokok membahayakan bagi perokok pasif dan aktif seperti penyakit paru-paru dan kanker

2. Tidak ada dalil yang tegas menyatakan bahwa rokok haram. Sehingga rokok itu tidak haram.

Koreksi:

Penentuan suatu hukum itu tidak harus didasarkan pada dalil yg tegas tentang spesifik tertentu. Tapi bisa didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yg terdapat pada Al-Qur’an dan hadis. Sebab kehidupan manusia itu terus berkembang sedangkan nash tidak bertambah.
Sebagai contoh ganja itu di dalam nash tidak dalil yg menyebutkan “sesungguhnya diharamkan bagi kalian ganja”. Kalau logika pakar hisap digunakan terhadap ganja, jelas ganja tidak akan haram. Akan tetapi dalam proses Ta’lilul Ahkam (mencari kausa hukum) disimpulkan segala sesuatu yg memabukan adalah haram sebagai prinsip Islam. Ganja disimpulkan haram.
Begitu juga dengan rokok. Selain bentuk syadu dari’ah terhadap kepada praktek membunuh diri secara perlahan juga menghindarkan berbuat kemadharatan terhadap orang lain. Sebagaimana yg tercantum pada hadis Nabi

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَار

َ“Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan.” (HR.Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani).

3. Kalau para kiyai dan santri yg menyeru kepada surga saja merokok, berarti yg mengharamkan telah menghina para kiyai dan santri.

Koreksi:

Tidak ada niatan menghina pada para santri dan kiyai. Perlu diakui kita semua adalah manusia biasa yg bisa salah, begitu juga para kiyai dan santri. Ketika prinsip2 Islam mengarah kepada haramnya rokok. Tentu yg diikuti adalah prinsip Islamnya bukan kiyai atau santrinya.
4. Argumentasi pemikiran terbalik. Kakek saya perokok tetap saja sehat atau saya perokok tapi tetap saja kaya.

Koreksi:

Logika tersebut bisa dikatakan terbalik karena tidak memandang logika mendasar. Kita sepakat rokok secara kesehatan menimbulkan dampak negatif dan memberikan dampak negatif juga secara ekonomi. Kalau kakek bisa tetap sehat walau merokok dan kamu tetap kaya walau merokok, maka kakek tua akan lebih sehat dan lebih berumur panjang kalau tidak merokok, begitu juga kamu akan lebih kaya kalau tidak merokok.

5. Argumentasi kalau rokok haram pemerintah akan rugi karena kehilangan pajak terbesarnya.

Koreksi:

Cukai yg di dapat pemerintah dari cukai rokok bisa dibilang besar sekali. Dalam masalah ini kita juga harus melihat secara berimbang, terhadap dampak kerugian pemrintah.
Berdasarkan data tahun 2010: cukai pajak itu sebesar 55 T, sedangkan pengeluaran makro yg dikeluarkan pemerintah akibat rokok 240,41 T.

http://m.kompas.com/health/read/2013/11/01/1705424/Nilai.Kerugian.Akibat.Rokok

Semoga dengan adanya tulisan ini menjadi renungan bagi para ahli hisap. Tidak ada niatan buruk sama sekali, tapi sebagai wujud kepedulian sebagai seorang muslim buat saudaranya.

Oleh: Waskito Hartono

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s